Budi Mandala, 33 tahun, merasakan betul dampak perang di Timur Tengah terhadap kondisi perekonomian keluarganya. Harga barang kebutuhan sehari-hari mengalami kenaikan. Sebagai tenaga penjual di salah satu distributor daging impor di Tangerang Selatan, tekanan ekonomi membuat penjualannya berkurang. Alhasil, penghasilannya pun turun.
“Target makin sulit tercapai, sementara kebutuhan terus bertambah,” ujar Budi kepada Katadata, Rabu, 15 April.
Dalam kondisi seperti itu, penghasilannya tak lagi cukup fleksibel. Saat penjualan turun, ruang untuk menabung ikut menyempit. Bahkan, menyisihkan dana darurat pun menjadi hal yang sulit dilakukan secara konsisten.
Setelah menikah pada 2021 dan kini memiliki seorang anak, Budi mulai merancang masa depan keluarganya—termasuk mencicil biaya pendidikan dengan harapan putranya dapat memperoleh pendidikan di sekolah swasta. Dari penghasilannya, hanya sekitar 5% yang bisa dialokasikan untuk tabungan anak. Selebihnya habis untuk urusan dapur, listrik, hingga membantu orang tua.
Setelah lebih dari satu dekade bekerja lintas industri—dari hiburan, makanan dan minuman, transportasi, hingga logistik—Budi telah melewati berbagai fase ekonomi. Namun, situasi saat ini terasa berbeda. “Bertahan saja sudah terasa berat,” katanya.
Kisah Budi mencerminkan wajah kelas menengah Indonesia hari ini: tetap bekerja, tetap berpenghasilan, tetapi semakin sulit menjaga keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Pasak, dengan kata lain, mulai lebih besar daripada tiang.
Riset Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI), yang dirilis 15 April, mendapati tekanan yang dialami kelas menengah memang kian nyata. Padahal masyarakat kelas menengah adalah mayoritas populasi di Indonesia.
Editor: Aria W. Yudhistira
