Musik pop Indonesia Timur tak berhenti mendulang pamor. Gelombang baru ini memperkaya tradisi musik joget Nusantara. Memperingati Hari Musik Nasional, Katadata mengajak pembaca mengungkap sebuah misteri musikal: apa yang membuat musik ini begitu digandrungi?
7 Maret 2026
Oleh: Tim Newslab Katadata
Mari Berdendang! ↓Momen formal upacara kemerdekaan 17 Agustus 2025 di Istana Negara akhirnya buyar ketika lagu “Tabola Bale” didendangkan. Presiden Prabowo Subianto, yang tadinya cuma manggut-manggut melihat para pejabatnya berjoget, akhirnya bangkit dari kursinya dan turun ke lapangan. Ia bahkan sempat mengeluarkan joget andalannya yang populer selama masa kampanye dua tahun lalu.
Lagu yang diciptakan Silet Open Up, Jacson Zeran, Juan Reza, dan Diva Aurel itu berhasil mengubah perayaan sakral dan kaku menjadi penuh energi dan lentur. Irama cepat dan beat ritmis lagu dari para musisi Nusa Tenggara Timur itu seperti mengajak orang untuk menggerakkan secara pol-polan tiap bagian di tubuhnya.
Sebelum masuk ke Istana, pamor “Tabola-Bale” sudah melejit sejak diunggah di YouTube pada 3 April 2025. Pada Februari 2026—belum genap setahun setelah dirilis—video klipnya telah ditonton lebih dari 450 juta kali. Video itu, dengan kata lain, ditonton sekitar 42 juta kali setiap bulannya.
Lonjakan ini tak berjalan sendirian. Dalam beberapa tahun terakhir, lagu-lagu pop Indonesia Timur semakin sering mengisi daftar trendingdan menjadi bunyi latar jutaan video di media sosial. Judul-judul lain seperti “Stecu-stecu”, “Orang Baru Lebe Gacor”, hingga “Ngapain Repot” ikut digandrungi.
Anugerah Musik Indonesia (AMI) tahun lalu pun diramaikan para musisi dari Indonesia Timur. Ketua Umum AMI 2025 Candra Darusman mengakui kuatnya arus tersebut. Dia menyebut tren musik ini sebagai salah satu yang begitu "terasa" dalam beberapa tahun terakhir.
Meski skalanya kini terasa jauh lebih besar, sebagian pengamat melihat tidak banyak yang berubah pada tubuh musiknya sendiri. Aris Setiawan, etnomusikolog dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, mengatakan formula musik Indonesia Timur yang beredar saat ini masih sama seperti yang lalu-lalu. Mulai dari lagu “Poco-Poco” milik Yopie Latul yang beken tahun 2000-an awal sampai “Gemu Fa Mi Re” milik Nyong Franco yang populer sekitar satu dekade silam.
"Yang berubah bukanlah musiknya, tetapi ruang edarnya." — Aris Setiawan, etnomusikolog ISI Surakarta, kepada Katadata, 9 Februari 2026
Formula merupakan pakem yang melatari sebuah musik. Musik Indonesia Timur antara satu dan yang lain, dalam hal ini, memiliki pakem yang relatif serupa. Pengiringnya selalu berbunyi di sela ketukan kuat , baik lewat instrumen gitar, kibor, maupun perkusi tambahan, yang menciptakan kesan bahwa musiknya secara keseluruhan terasa lebih cepat.
Musik populer sangat lazim menggunakan birama 4/4. Birama ini mengharuskan empat ketuk di dalam sebuah bar, dengan nilai seperempat pada tiap ketuknya. Bunyi di sela ketukan kuat berarti tidak memberikan jeda atau “ruang kosong” yang berada di antara ketukan utama.
Bunyi yang hendak mengisi ruang kosong itu selalu muncul berulang di sepanjang lagu. Ini disebut sebagai looping beat: suatu proses pengulangan sebuah figur atau elemen musik untuk membuat konsistensi. Konsistensi itu, dalam konteks musik Indonesia Timur, hendak membikin pendengarnya masuk ke dalam sebuah lagu dengan ritme yang dominan tetapi mudah diidentifikasi.
Sirkulasi akor yang terus berulang—satu lagi ciri utama musik populer—juga dimanfaatkan oleh para musisi musik pop Indonesia Timur kiwari untuk mengakomodasi aspek ritme tersebut. Fokusnya bukan lagi eksplorasi melodi dan harmoni, melainkan pola ritme. Inilah yang membuat musik Timur terasa begitu ritmikal dengan aspek perkusif yang padat.
Pakem musik Indonesia Timur sesungguhnya beririsan dengan tradisi "musik joget" yang telah tumbuh di Indonesia sejak pertengahan abad ke-20. Pola ritme yang menyelip di antara ketukan utama memiliki jejak panjang dalam musik populer Indonesia generasi sebelumnya.
Di Jamaika, musik reggae yang berkembang pada akhir 1960-an menjadikan offbeat sebagai identitas utamanya.Gitar memainkan aksen yang sangat pendek pada ketukan sela. Teknik ini disebut skank.
Reggea sendiri merupakan hasil variasi lambat dari musik yang telah ada sebelumnya: ska dan rocksteady yang masing-masing berkembang pada akhir 1950-an dan pertengahan 1960-an.
Musik pop Barat pun kerap memanfaatkan ruang di sela ketukan utama tersebut, meski dengan fungsi yang berbeda. Dengarkan lagu “Bad Guy” dari Billie Eilish. Melodi vokal Billie bermain-main dengan offbeat sehingga menciptakan efek yang terputus-putus. Namun, ia tidak mengulanginya sebagai pola ajek di sepanjang lagu. Offbeat ini muncul untuk menciptakan kesan irama ganjil.
Dalam kadar yang lebih sedikit, offbeat juga digunakan Taylor Swift pada lagu “The Fate of Ophelia”. Synthesizer pengiring yang sesekali melakukannya. Variasi offbeat itu tidak memberi efek “joget” ala musik dangdut atau koplo, tetapi menciptakan gerak musik yang lebih luwes dan catchy.
Dari situ perbedaannya kian kentara. Musik Indonesia Timur menempatkan offbeat sebagai fondasi berulang dan nyaris tak putus, yang formulanya sudah digunakan Ismail Marzuki pada 1950-an. Sementara dalam musik populer Barat, offbeat lebih sering menjadi selipan sebagai variasi.
Meski berbagi pola ritme yang sama dengan berbagai jenis musik lain, musik Indonesia Timur memiliki karakteristik vokal yang khas, terutama jika dilihat dari kepadatan bunyinya.
Menurut Aris, perbedaan karakter ini bisa dilacak dari konstruksi kebahasaan dan budaya tutur tempat musik tersebut berasal. Ciri vokal pada musik-musik yang berasal dari trah budaya Jawa, misalnya, seperti karawitan hingga campursari, cenderung mendayu. Dalam satu kata, bisa terkandung beberapa nada. Dalam musik, gaya semacam ini lazim disebut melismatis.
Sebaliknya, dalam banyak musik Indonesia Timur, setiap kata cenderung memiliki nada yang berbeda sehingga menciptakan kesan ritmis yang lebih bergerak.
"Konteks kebahasaan Indonesia Timur lebih dinamis. Itu membuat musiknya terasa cepat dan energik," — Aris Setiawan
Perbedaan itu bisa diuji secara kuantitatif. Analisis terhadap perubahan ritme menunjukkan jurang cukup lebar antara gaya vokal dangdut dan musik Indonesia Timur.
Pada dua contoh dangdut, “Pamer Bojo” dan “Renungkanlah”, perubahan ritme vokal terjadi rata-rata 1,04 kali per detik. Interval antarperubahannya pun berada di kisaran 0,96 detik. Artinya, hampir satu detik penuh dibutuhkan sebelum terjadi pergeseran ritme vokal berikutnya.
Bandingkan dengan “Tabola-Bale” dan “Orang Baru Lebe Gacor”. Pada kedua lagu ini, perubahan ritme vokal mencapai rata-rata 2,08 kali per detik. Intervalnya hanya sekitar 0,48 detik. Dalam rentang waktu yang sama, dengan kata lain, musik Indonesia Timur memproduksi perubahan ritme hampir dua kali lebih banyak dibandingkan musik dangdut.
Dalam konteks musik populer, melodi dan ritme vokal merupakan jantung dari sebuah musik. Ia adalah elemen yang paling mudah diingat dan paling cepat ditiru. Ketika frekuensi perubahan ritme vokal meningkat, atensi yang dibutuhkan pendengar pun ikut naik. Efeknya bukan hanya lagu terdengar lebih cepat, tetapi juga terasa lebih “ramai” sekalipun jumlah instrumennya minim.
Gaya vokal dalam musik pop Indonesia Timur juga tak lepas dari kultur rap yang menekankan kecepatan dan permainan rima. Skena rap sendiri sudah sangat berkembang terutama di NTT, Maluku, dan Papua. Pada AMI 2025, Ecko Show, rapper asal Gorontalo yang juga terlibat dalam kolaborasi lagu “Orang Baru Lebe Gacor”, diganjar penghargaan kategori Penyanyi Solo Rap/Hip Hop Terbaik.
Nah, karakter vokal ini dinilai cocok dengan preferensi orang muda yang menggemari lagu-lagu ritmis dan energik, terutama untuk kebutuhan konten video pendek dan tarian di TikTok.
"Media sosial, terutama TikTok, tidak hanya menampilkan wajah, tapi juga konstruksi tubuh yang bergerak. Lagu-lagu yang energik dan cepat otomatis menemukan ruangnya." — Aris Setiawan