Impor dari Tiongkok Anjlok, Neraca Dagang Februari Surplus US$ 2,34 M

Agatha Olivia Victoria
16 Maret 2020, 12:19
BPS, impor, ekspor, neraca perdagangan Februari 2020, virus corona, neraca perdagangan surplus
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Ilustrasi. BPS mencatat impor pada Februari 2020 turun 18,69% dibandingkan Januari 2020 menjadi US$ 11,6 miliar.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pusat Statistik mencatat, neraca perdagangan pada Februari 2020 surplus US$ 2,6 miliar., berbanding terbalik dibanding bulan lalu yang defisit US$ 860 juta. Surplus terjadi karena penurunan impor yang cukup tajam pada bulan lalu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti  menjelaskan impor pada bulan lalu turun 18,69% dibandingkan Januari 2020 menjadi US$ 11,6 miliar. Sementara ekspor masih naik naik 2,24% menjadi US$ naik US$ 13,994 miliar. 

"Neraca perdagangan kita surplus US$ 2,34 miliar. Cukup besar surplusnya karena impor turun cukup signifikan dan ekspor naik", kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di Jakarta, Senin (16/3).

(Baca: Awal Tahun, Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 5.600 Triliun)

Yanita menjelaskan ekspor pada Februari juga tumbuh 11% dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ekspor masih terjadi pada barang nonmigas yang mencapai 14,64% dibanding periode yang sama tahun lalu atau tumbuh 2,38% dibanding bulan lalu menjadi US$ 13,12 miliar.

"Ekspor migas dibanding Januari turun 0,02% menjadi US$ 13,94 miliar, secara year on year-nya turun 26,51%," ujar Yunita.

Kenaikan ekspor masih terjadi pada kelompok barang logam mulia dan perhuasan, kendaraan, lemak dan minyak hewan/nabati, serta bahan bakar mineral. Sedangkan penurunan terjadi pada kelomok barang pakaian dan aksesoris, pulp dan kayu, tembaga, serta alas kaki.

"Kenaikan ekspor nonmigas terbesar terjadi untuk tujuan Singapura sebesar US$ 281,5 juta. Sedangkan negara dengan penurunan ekspor terbesar Tiongkok sebesar US$ 245,5 juta," kata dia.

(Baca: Terdampak Corona, Neraca Dagang Februari Diramal Surplus)

Adapun impor pada Februari, menurut dia, turun 5,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan impor terutama terjadi pada barang nonmigas mencapai 7,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atay 19,77% dibanding bulan lalu menjadi US$ 9,85 miliar.

Sementara itu, impor migas turun 12,5% dibanding bulan lalu, tetapi naik 10,33% dibanding Februari 2019 menjadi US% 1,75 miliar.

"Impor pada penggunaan barang, baik konsumsi, bahan baku, maupun barang modal turun baik secara bulanan maupun tahun," jelas dia. 

Penurunan paling tajam terjadi pada impor barang konsumsi yang mencapai 39,91% atau 12,81% secara tahunan menjadi US$ 0,88 miliar. Sedangkan impor bahan baku atau penolong turun 15,89% secara bulanan atau 1,5% secara tahunan menjadi US$ 8,89 miliar dan barang modal turun 18,03% secara bulanan atau 16,44% secara tahunan menjadi US$ 1,83 miliar.

 "Penurunan impor nonmigas terbesar terjadi dari Tiongkok mencapai US$ 1,94 miliar," jelas dia.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...